Robohnya Si Tegar

“Tidak ada kebohongan yang tidak berakhir dengan kenistaan…”kata Pak Syamsudin menutup penjelasannya.
“Jadi ingat ini baik-baik anak-anak jangan pernah berbohong.”kata Pak Syam menekankan, seraya beranjak meninggalkan kelas.
Kelas yang semula tenang kini mulai gaduh. Kebetulan setelah ini waktunya mata pelajaran olahraga. Anak-anak kelas IIb bersiap-siap mengganti seragam mereka dengan pakaian olahraga. Di salah satu sudut ruang kelas tampak seorang bocah lelaki yang sedang sibuk mencari sesuatu dalam tasnya. Sesekali di periksanya saku bajunya, namun rupanya apa yang di carinya tak kunjung ditemukannya.
“Aduh…jangan-jangan tertinggal di rumah nih”serunya lirih, seraya merogoh saku celananya.
Ia mencoba mengingat-ingat kejadian pagi ini. Sebelum berangkat sekolah ia sibuk menyiapkan baju olahraga yang kemarin sore lupa belum ia siapkan. Padahal kemarin Mama sudah mengingatkannya berkali-kali, namun kala itu ia masih sibuk menyelesaikan prakaryanya.
Ia bergegas pamit, tatkala terdengar klakson mobil jemputan di depan rumah. Memang sebelumnya ia sempat mendengar suara Mamanya memanggilnya untuk sarapan dan kalau tak salah Mama juga sempat bilang bahwa uang sakunya di letakkan di atas meja makan, di samping gelas susu.
“benar nih, ketinggalan di atas meja makan”serunya lirih seraya menepuk dahinya. Dengan lemas ia menuju kamar ganti menyusul teman-temannya. Masih terbayang ketika ia mencium tangan Mamanya pagi ini,
“Tegar berangkat Ma, Assalamualaikaum..”katanya berpamitan
“Waalaikumsalam, benar Tegar sudah sarapan?”tanya Mama ragu. Tegar mengangguk penuh kepastian.
Padahal, jangankan sarapan seteguk airpun belum sempat ia minum. Bahkan hanya agar tidak ketahuan Mama kalau ia bohong, Tegar menuang susunya ke dalam mangkok si Manis, kucing piaraannya. Tadinya ia berencana hendak membeli makanan di kantin sekolah untuk sarapan, namun sayang rupanya uang sakunya belum sempat ia ambil. Ia benar-benar menyesal telah berbohong pada Mama. Andai ia katakan yang sebenarnya, Mama pasti akan menyiapkan bekal untuknya. Seketika itu terngiang kembali kata-kata Pak Syam tadi,
“…jangan pernah berbohong…”kata-kata itu serasa menusuk relung hatinya. Ia merasa benar-benar tersindir.
Ruang ganti masih ramai, beberapa temannya yang sudah selesai ganti baju mulai meninggalkan tempat itu. Namun tak urung Tegar harus menunggu gilirannya. Saat itu ia hanya terdiam menyandarkan punggungnya di dinding kamar ganti. Matanya melirik teman-teman perempuannya yang lewat menuju lapangan. Beberapa di antaranya memegang botol minuman. Sambil bercengkerama mereka sesekali meneguk air mineral yang mereka bawa. Melihat itu Tegar hanya bisa menelan ludah. Sebenarnya sejak upacara bendera tadi pagi, kerongkongannya sudah kering. Belum lagi perutnya yang keroncongan minta di isi. Tegar mengelus perutnya pelan. Masak ia harus minta minum pada mereka, apa kata teman-temannya nanti bila tau. Memikirkan itu Tegar semakin lemas saja.
“Ehmm….”Tegar menarik napas panjang. Ia harus tegar, setegar namanya. Pikirnya menghibur diri. Untuk mengurangi rasa dahaganya, ia mengguyur kepalanya dengan air pancuran. Kemudian mengibaskan rambutnya yang basah. Percikan air menciptakan kesegaran di sekujur tubuhnya yang sedikit basah karenanya. Namun
“kruuyuk…kruyuuk…”suara perutnya kembali terdengar. Tak dapat di pungkiri hal itu tak bisa mengobati rasa laparnya. Tegar meringis kecut, seraya bergegas meninggalkan kamar ganti.
Di lapangan teman-temannya telah siap berjajar membentuk barisan. Rupanya kali ini mereka akan di perkenalkan dengan pengetahuan tentang baris-berbaris. Tegar pun terpilih sebagai ketua barisan. Awalnya ia memimpin barisan dengan penuh percaya diri. Suaranya yang lantang mengikuti petunjuk guru olahraganya, memberi arahan pada teman-temannya.
Mentari bersinar terik. Kesegaran yang tadi sempat ia rasa sekejap berganti menjadi rasa gerah bercampur dahaga yang amat sangat. Buliran demi buliran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa dingin. Pendengarannya mulai berkurang, pandangannya mengabur. Ia merasa seolah sekelilingnya berputar, ia tak dapat melihat apa-apa kecuali sebuah cahaya yang sangat terang dan menyilaukan. Dengan sisa-sisa tenaganya Tegar meraba dahinya, mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Namun pandangannya semakin kabur dan akhirnya…GELAP….
Sayup-sayup ia mulai mendengar suara orang di sekelilingnya. Hidungnya lambat-lambat mencium aroma minyak kayu putih. Perlahan Tegar membuka mata, ditatapnya satu-persatu teman-temannya yang tengah mengerubutinya. Ia sempat menangkap kecemasan di wajah guru olahraganya. Rupanya tadi ia pingsan di tengah lapangan. Tentu hal itu tak biasa bagi orang yang mengenalnya. Selama ini ia terkenal sebagai salah satu atlit lari di kalangan teman-teman sebayanya. Meski usianya yang masih belia ia sudah pernah menjuarai lomba lari mewakili sekolahnya. Siapa sangka, ia bisa pingsan juga.
Ia mulai mengalihkan pandangan ke sekeliling. Rupanya kini ia tengah berbaring di ruang UKS. Mata Tegar berbinar-binar ketika gurunya menyodorkan segelas air mineral padanya. Sedikit tergesa Tegar meneguk air minum itu. Dan menghabiskannya dalam sekali tegukan saja. Setelah di rasa telah tenang, gurunya pun bertanya
“sebenarnya apa yang terjadi Tegar? Apa kau sedang tidak enak badan?”tanya Pak Guru seraya memeriksa dahi Tegar. Semua temannya terdiam menunggu jawaban Tegar. Yang di tanya malah terdiam kebingungan. Masak ia akan menjawab bahwa ia pingsan karena lapar. Belum sempat memutuskan akan menjawab apa, tiba-tiba
“Klutuk..Klutuk..kriyuuk..”suara perutnya memecahkan keheningan. Seketika ruangan itu menjadi gaduh oleh gelak tawa teman-temannya. Tak dapat di sembunyikan lagi, raut wajah Tegar memerah. Ia nyengir, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pak Guru pun tersenyum, mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun mengajak teman-teman Tegar untuk meninggalkan ruang tersebut. Untuk memberi ruang bernafas bagi Tegar. Pak Guru kemudian memesankan seporsi mie pangsit di kantin untuk Tegar.
Dalam kesendiriannya Tegar terdiam, merenungi semua. Peristiwa ini merupakan hal yang paling memalukan dalam hidupnya. Namun bagaimana lagi semua sudah terjadi. Ia benar-benar menyesal dan berjanji dalam hati tak akan berbohong lagi. Sayup-sayup kalimat Pak Syam kembali terngiang-ngiang dalam pikirannya.

Sumber : Nurul Hayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: