Kisah Hati Berbalut Syukur

Langit bersinar cerah, mentari pagi menghangatkan setiap insan yang mulai beraktivitas. Seorang bocah lelaki, berumur tujuh tahunan melangkah riang menyusuri setapak. Hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah dasar. Seragam baru, sepatu hitam mengkilat, dan sebuah tas ransel menghiasi bahunya. Seulas senyum terlukis di wajahnya yang berseri-seri. Terbayang pengalaman baru yang akan dihadapinya, teman-teman baru, suasana baru. Semua itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat saja.
“Hasannudin..”suara bu guru memanggil namanya, tatkala pelajaran hendak di mulai. Dengan semangat ia mengacungkan tangan kanannya.
“saya bu..”jawabnya lantang
“Hasan Abidin…”seru bu guru melanjutkan mengabsen satu persatu murid kelas IA.
Kebetulan nama yang baru di sebut tersebut adalah teman sepermainannya di rumah. Selain pintar Hasan juga anak yang baik, meski dari keluarga berada ia tak sombong dan tidak pilih-pilih bila berteman. Itulah yang membuat Udin tak menolaknya ketika Hasan mengajaknya duduk sebangku.
Hari ini Udin merasa waktu berjalan lebih cepat. Tidak terasa jam pulang telah tiba. Para murid berhamburan keluar kelas, dengan riang. Saling bercanda serta  berkejaran menuju gerbang sekolah. Udin pun tak ketinggalan bergegas pulang, masih ada waktu untuk membantu ibu, pikirnya dalam hati. Sesampainya di tikungan Udin di kejutkan sebuah suara yang memanggil-manggil namanya.
“Din, tunggu….kita sama-sama yuk pulangnya”seru sumber suara itu ketika berada tepat menjajarinya. Ternyata itu adalah Hasan yang mengajaknya pulang bersama.
“Ayo…”serunya lagi sambil menunjuk boncengan sepedanya.
Awalnya Udin masih ragu-ragu, namun kemudian ia mengangguk mengiyakan.
“baik aku mau, asal aku yang mengayuh sepedanya. Bagaimana?”kata Udin menawarkan diri.
Dan di sambut anggukan setuju Hasan. Mereka pun pulang berboncengan. Tawa canda mengiringi perjalanan itu. Meski peluh membasahi kening Udin,  namun ia nampak tetap gembira. Diam-diam ia bersyukur dalam hati, ini merupakan bantuan dari Tuhan yang tak terduga baginya. Dengan begini ia bisa lebih cepat sampai di rumah dan segera membantu ibunya. Meski sedikit capek tapi ia senang, ia tak sampai hati bila Hasan yang harus mengayuh dan ia yang enak-enakkan di bonceng. Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Udin. Setelah berpamitan Hasan melanjutkan perjalanannya.
Nampak berbagai rempah-rempah dijemur di depan rumah. Seorang bocah perempuan duduk di teras sambil mengusir ayam-ayam yang hendak mendekat. Senyum ceria menyambut kakaknya pulang. Dengan tak sabar ia merebut tas ransel kakak laki-lakinya tersebut. Rupanya ia ingin segera bersekolah seperti kakaknya. Setelah berganti baju, Udin menghampiri ibunya yang tengah menyiapkan beberapa ramuan jamu tradisional ke dalam botol-botol yang telah disiapkan sebelumnya.Udin mengucap salam dan mencium tangan ibu. Seketika bau harum rempah-rempah menyapa hidungnya. Bau khas tangan ibunya, pikir Udin dalam hati.
“bagaimana di sekolah nak, Udin tidak nakal kan?”tanya ibunya sambil meneruskan pekerjaannya.
“alhamdulillah lancar bu. Udin juga punya beberapa teman baru.”jawab Udin seraya meraih kendi di atas meja. Setelah menuang air dalam gelas dan meneguk habis isi gelas itu Udin kembali menghampiri ibunya.
“Untung Udin sudah pulang, ibu hendak minta tolong mengantarkan ini ke beberapa langganan Ibu. Udin masih ingat kan rumah mereka” kata ibu seraya menyerahkan keranjang berisi beberapa botol jamu. Udin menggangguk dan bergegas mengantarkan pesanan tersebut.
Setelah berjalan menyusuri gang demi gang, Udin akhirnya sampai juga di sebuah rumah besar berpagar besi. Ini adalah rumah terakhir yang di tujunya. Udin menengok ke sekeliling rumah, mungkin ada seseorang yang bisa ditemuinya. Akhirnya matanya tertuju pada sebuah bel pintu tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan agak berjinjit Udin berusaha menggapai bel tersebut. Sekali, tak ada respon. Dua kali, akhirnya seorang bocah sebaya dengannya keluar dan membuka pagar. Mereka saling berpandangan sesaat, keduanya sama-sama terkejut. Rupanya ini adalah rumah Ali, teman sekolah Udin.
“Udin??”seru Ali ragu-ragu
“Ali, ya ? Ini pesanan jamu Ibu Choir”kata Udin tersenyum seraya menyerahkan sebotol jamu pada Ali.
“Ehm…Oh ya”jawab Ali masih tak percaya.
Demikianlah setelah selesai mengantar pesanan ibunya, Udin pun bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia mendapati ibunya yang tengah berusaha menggendong keranjang dari bambu berisi botol-botol jamu. Udin pun dengan cekatan segera membantu ibunya. Setelah berpamitan dengan kedua anaknya, ibu berangkat menggendong keranjang jamu dan di tangan kanannya menjinjing ember kecil berisi air. Udin menggandeng tangan adiknya yang terus melambai-lambai pada ibunya. Dalam hatinya Udin terus berdoa agar ibunya selamat dan dagangannya dapat cepat laku, agar ibu bisa segera pulang.  Ia juga mendoakan Ayahnya yang tengah bekerja ke kota sebagai kuli bangunan. Semoga Alloh selalu melindungi keduanya, batin Udin seraya mengajak adiknya masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya di sekolah.
“jamu…jamu…jamunya bang…”suara anak-anak dari pojok kelas mengejutkan Udin yang baru melangkah masuk ke dalam kelas.
“jamu neng…jamu..”seru mereka lagi seraya tertawa memandang dengan sebelah mata padanya. Diantara mereka nampak Ali yang tertawa, melihat ulah Tono yang tengah memperagakan gaya seorang mbok jamu. Melihat itu Udin hanya tersenyum tipis. Sehari, dua hari berlalu, mereka selalu berlaku seperti itu. Namun Udin tak pernah menghiraukannya. Lama-lama mereka akan capek juga, pikirnya menghibur diri.
Suara gaduh membangunkan Udin di suatu pagi buta. Dengan mata masih mengantuk ia menghampiri suara itu. Rupanya suara gaduh itu berasal dari tumbukan palu ibunya yang tengah meramu jamu. Nampak lelah tergores di wajah ayu ibunya.  Sesekali ibunya mengusap peluh yang membasahi keningnya, sambil terus  menumbuk. Udin kembali ke ranjang, tak sampai hati ia menyaksikan ibunya pagi buta begini sudah bekerja keras. Terbayang kembali ulah teman-teman sekelasnya. Tiba-tiba hatinya menjadi ngilu. Sebutir air mata merayap pelan diantara kelopak matanya yang terpejam.
Mengapa ia harus malu atau risau disebut-sebut sebagai anak penjual jamu, toh memang ibunya adalah seorang pembuat jamu. Ia bersyukur memiliki ibu seperti ibunya. Seorang wanita yang selalu menjaga diri dalam segala himpitan ekonomi seperti sekarang. Seorang wanita yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk selalu beriman pada Tuhannya dan berusaha keras memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Meski sederhana tak apa asal halal, kata ibunya setiap kali menghidangkan makanan untuk mereka.
Ia juga bangga, karena hanya segelintir saja orang yang memilki kemampuan seperti ibunya. Apalagi sebagai pedagang ibunya selalu menjaga kejujuran, membuat jamu dari rempah-rempah murni tanpa campuran yang merugikan konsumennya. Tak heran bila langganan ibu semakin banyak saja. Sehingga kini ibu harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat memenuhinya.
Udin berjanji dalam hati ia akan belajar lebih giat. Agar kerja keras orangtuanya tidak sia-sia. Ia juga berjanji kelak bila dewasa ia akan berusaha membahagiakan mereka.     “Terima kasih ayah, terima kasih ibu”serunya lirih, di dekapnya erat guling yang menemaninya tidur. Sebutir air mata kembali merayapi kelopak matanya yang terpejam. Kehangatan menyelimuti hatinya yang penuh rasa syukur, mengangkat tinggi doa-doanya menembus langit-langit rumahnya. Dan menerbangkannnya ke langit ke tujuh. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang kemudian kembali terlelap.

Sumber : Nurul Hayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: