Arti Sebutir Padi

“Anna…”seru Bunda, seraya mengacungkan jari telunjuknya, tanda melarang Anna yang ingin membuang nasi di piringnya yang terlihat tak habis.
“Tapi Bunda….” rengek Anna dengan tampang memelas.
“Bunda kan sudah bilang gak boleh membuang nasi, sayang. Ayo dihabiskan dulu ya, tinggal sesendok loh nak, sayang kalau dibuang percuma.” kata Bunda sambil menyuapkan sendok berisi nasi ke dalam mulut buah hati kesayangannya itu.
Memang bukan baru sekali ini saja bunda mendapati putrinya hendak membuang makanan yang malas ia habiskan. Dan sebenarnya sudah berkali-kali pula Bunda mengingatkan bahwa hal itu sangat tidak baik.
“Nah gitu dong..habis makan baca doa apa hayo..?”seru Bunda seraya mengacak-acak rambut putrinya itu dengan sayang.
“Alhamdulillah…”suara Anna perlahan.
“Nah, begitu dong. Anna kan anak bunda yang pintar. Ayo sekarang Anna siap-siap, kita ke toko menyusul Ayah ya…” kata Bunda seraya mengecup kening Anna, yang masih bersungut-sungut jengkel.
Sebenarnya Anna sedikit malas bila di ajak Bunda ke toko. Makanya ia jarang sekali menemani Ayah menjaga toko di pasar.
Di perjalanan mobil itu tidak langsung menuju pasar, melainkan ke daerah pinggiran terlebih dahulu. Pak Kardi menghentikan mobil di pinggir sawah, sampai seorang lelaki bertopi caping menghampiri Bunda.
Sesaat mereka nampak sibuk berbincang di sebuah pondok tak jauh dari mobil diparkir. Anna mengedarkan pandangannya ke sekeliling persawahan itu. Tampak hijau membentang di beberapa petak sawah. Sedang di petak yang lain terlihat beberapa orang perempuan menebar benih di salah satu sudutnya. Mereka seolah tak menghiraukan panasnya sengatan matahari yang kini tepat di atas kepala.
Peluh membasahi punggung-punggung yang membungkuk tersebut. Dengan seksama Anna mengamati mereka. Saat itulah Anna baru tersadar bahwa benih yang mereka sebarkan ternyata adalah padi.
Dan saat hal tersebut ia sampaikan pada Bunda, bunda menjawab dengan bujaksana, “Benar sayang, kalau Anna mau memperhatikan sekeliling maka Anna akan tau kenapa selama ini Bunda melarang Anna membuang nasi atau makanan. Anna tau kan, nasi itu berasal dari butiran beras atau padi. Mungkin sebutir padi bagi kita tak ada artinya, karena Alhamdulillah kita dikaruniai Allah rezeki yang berlimpah. Tapi barangkali bagi orang lain itu adalah penyambung hidup nak…” kata Bunda sambil juga melepaskan pandangan ke hamparan sawah di depan mereka.
“Bagi petani, sebutir padi bila ditanam akan menjadi sebatang pohon padi. Dan kemudian menghasilkan buliran-buliran padi yang bila mereka jual, hasilnya dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh keluarga mereka.”kata Bunda panjang lebar.
Mobil terus melaju membentang jalanan, kemudian membelok perlahan menuju tempat parkir. Saat itulah pandangan mereka tertuju pada tiga orang gelandangan yang tengah berebut sebungkus nasi bungkus di pelataran sebuah toko. Karena merasa terganggu sang pemilik toko pun menghardik mereka. Seketika mereka beranjak dari tempat itu dan duduk di pojok toko yang lain. Seorang diantara mereka membuka bungkusan berisi nasi, tak lama kemudian ketiganya telah larut dalam menikmati hidangan di atas trotoar itu. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Tiba-tiba hati Anna terasa ngilu. Rasa sesal merayapi relung-relung hatinya. Pandangannya sedikit menerawang. Ia membayangkan seandainya dirinyalah yang berada diantara ketiga gelandangan tersebut, berebut hanya demi sesuap nasi.
Bunda lalu menggandeng tangan Anna memasuki pasar. Menerobos kerumunan pembeli dan para kuli panggul yang lalu lalang di antara lorong-lorong pasar. Kurang beberapa blok dari toko Ayahnya tiba-tiba dengan tanpa sengaja seorang kuli panggul menabraknya. Demi menghindari tabrakan dengan tubuh kecil Anna, kuli panggul itupun membelok dengan tiba-tiba sehingga tubuhnya oleng dan mengakibatkan karung goni yang di panggulnya terjatuh. Beberapa butir padi berhamburan keluar dari sobekan karung karenanya.
“Maaf Neng…” ucap lelaki separuh baya tersebut cepat-cepat mengangkat bawaannya kembali.
“Sama-sama, saya juga minta maaf pak…” ucap Anna yang lalu dibalas dengan senyuman dari lelaki tersebut dan segera berlalu meninggalkan Anna yang masih terpaku memperhatikan kuli panggul tersebut.
Selembar handuk menjadi pemisah antara karung goni dan bahunya yang hitam legam. Butiran keringat membasahi punggungnya yang tak memakai baju. Dari kejauhan Anna sempat melihat lelaki separuh baya itu tertunduk lesu mendapat teguran keras dari pemiliki karung yang di panggulnya.
Lelaki berkulit putih pucat itu membentak-bentaknya sambil menunjuk-nunjuk butiran padi yang tercecer. Sekali lagi ngilu menyayat hatinya. Kalau ia perhatikan padi yang tercecer itu tak ada segenggam, tapi hanya karena itu lelaki separuh baya itu harus menerima teguran keras.
Diam-diam Anna mencerna semua kejadian yang ia alami hari ini. Mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan betapa berartinya sebutir padi yang selama ini tanpa terasa telah ia sia-siakan.
Anna melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba ia terkesiap. Dilihatnya seorang wanita tua dengan membawa tas plastik memunguti padi-padi yang berserakan itu. Satu persatu dipungutnya dan kemudian dimasukkannya ke dalam tas plastik sehingga tidak menyisakan satu pun di lantai.
Anna tertegun sesaat, tanda tanya besar menggelanyuti pikirannya. Langkahnya perlahan menuju toko Ayahnya yang tak jauh dari tempatnya sekarang, namun pandangannya tetap tertuju pada wanita tua tersebut. Anna menghentikan langkahnya tatkala punggungnya menabrak tumpukan karung yang terjajar rapi di depan toko Ayahnya.
Di kejauhan wanita tua itu masih sibuk memunguti butiran padi yang tercecer, sambil sesekali ia membersihkannya dari debu yang menempel. Anna pun membalikkan badan ketika bayangan wanita tua itu sudah tak kelihatan.
“Assalammualaikum…” ucapnya tatkala memasuki toko Ayahnya
“Waalaikumsalam..”balas orang-orang yang berada di dalam toko hampir serentak. Melihat kedatangan buah hatinya, senyum mengembang di wajah Ayahnya. Diraihnya tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Tentu Anna senang mendapat sambutan seperti itu.
“Ini Pak lima kilo silakan”kata Ayahnya seraya menyerahkan bungkusan tas plastik berwarna hitam itu kepada lelaki tua di hadapannya.
“Alhamdulillah…” seru lelaki tua itu sumringah menerima bungkusan itu.
“Dan ini kembaliannya…” ucap Ayah seraya menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada lelaki tersebut. Setelah menerima kembalian lelaki itu pun bergegas meninggalkan toko. Tangan kirinya menenteng tas plastik hitam yang ternyata berisi beras dan tangan kanannya sibuk mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Sambil sesekali menatap tas plastik itu dengan berbinar-binar. Seolah telah mendapat hadiah utama sebuah undian saja, pikir Anna dalam hati.
“Itu kan Pak Asep Yah, tukang becak yang biasa mangkal di depan pasar. Gimana kabar keluarganya hari ini”kata Bunda sambil sibuk menata dagangan.
“Alhamdulillah, kabarnya si bungsu baru lulus. Makanya ia sangat bahagia, karena hari ini bisa merayakan kelulusan anak bungsunya tersebut dengan makan nasi putih punel dan pecel lele buatan istrinya. Katanya, sudah lama sekali mereka tidak pernah makan seistimewa itu.” ucap Ayahnya seraya mengelus-elus rambut Anna yang terurai.
Tanpa di sadari gerimis membasahi hati Anna, tatkala mendengar hal tersebut. Ternyata makanan yang selama ini ia remehkan, merupakan menu istimewa bagi orang lain.
“Segala Puji bagi Allah dengan segala rahmatNya. Ampuni perilaku hamba selama ini ya Allah…” doa Anna diam-diam dalam hati.
Sungguh kini ia merasa Allah sangat sayang padanya. Rangkaian berbagai kejadian hari ini yang demikian indahnya, telah menyadarkan betapa ia lalai selama ini. Sungguh Allah tak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia, demikian pula dengan keagungannya, Allah ciptakan sebutir padi beserta segala kegunaan dan manfaatnya. Maha besar Allah yang telah menciptakan Alam Raya ini. Seketika dada Anna menghangat dipenuhi rasa syukur.

Sumber : Nurul hayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: