Petualangan Ibrahim

Hari minggu telah tiba. Hari ini Ayah berjanji akan mengantar Bunda berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota ini. Sembari mengantar Bunda berbelanja Ibrahim dapat bermain mandi bola sepuasnya di sana.
Sesampainya disana Ayah dan Ibrahim segera menuju arena bermain. Beberapa anak tengah bermain. Setelah membeli tiket Ayah mengajak Ibrahim ke arena mandi bola. Selain kolam bola yang besar, disana juga terdapat tanjakan, lorong, papan seluncur dan beberapa bentuk mainan lain yang semuanya terbuat dari balon udara. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Ibrahim bermain disana. Namun selama ini ia hanya bermain di kolam bola saja. Ayah juga tak habis pikir kenapa buah hatinya itu selalu mengurungkan niatnya ketika baru sampai di ujung lorong.
“Ibrahim takut Yah, habis di dalam gelap” kata Ibrahim ketika di tanya Ayah waktu itu.
“tidak apa-apa sayang itulah tantangannya.”kata Ayah menyemangati.
“nanti kalau Ibrahim tersesat dan tidak bisa keluar bagaimana”kata Ibrahim lagi. Ayah tersenyum mendengarnya.
“Ibrahim lihat, tuh teman-teman yang lain tidak ada yang tersesat. Kelihatannya seru sekali, bahkan beberapa dari mereka mencoba berulang-ulang. Ayah yakin, jagoan Ayah lebih berani dari mereka.”seru Ayah menyemangati.
“Ayo A’im.. A’im pasti bisa”seru Ayah lagi tatkala melihat putranya mulai mendekati tangga.
Mulanya Ibrahim masih tampak ragu-ragu, namun ia telah bertekad hari ini ia akan menaklukkan rasa takutnya itu.
“Kalau yang lain bisa, aku pasti juga bisa”pikirnya menyemangati dirinya sendiri.
Selangkah, dua langkah ia menapaki tangga. Kini ia telah berada di mulut lorong. Tatapannya menatap jauh ke depan, namun hanya gelap yang tertangkap indera penglihatannya. Nyalinya mulai ciut, ia menoleh ke arah Ayah di luar arena.
Nampak mata Ayah berbinar-binar, seraya mengacungkan kedua ibu jari untuk menyemangatinya. Kembali Ibrahim melangkah, tiba-tiba dari arah belakang seorang gadis kecil menyeruak merangkak mendahuluinya, kemudian seorang bocah lelaki seusianya menyusul. Tidak berapa lama bayangan mereka mulai hilang ditelan kegelapan, namun tawa mereka masih terdengar oleh Ibrahim.
Tak sedikitpun ketakutan tergambar di raut wajah mereka, pikirnya menyemangati diri sendiri. Ibrahim kembali memasuki lorong gelap itu.
“Bismillahhirohmannirohim..”seru Ibrahim pelan.
Ia merangkak pelan-pelan, tak terhitung berapa anak yang telah membalapnya. Namun Ibrahim tak perduli, seolah ia menikmati setiap pijakan yang ia lalui. Setiap detik dan debar yang menyertainya. Suara gelak tawa anak-anak lain menjadi pemandu arahnya.
Setelah merangkak cukup jauh kini ia berada di sebuah persimpangan. Ibrahim terhenti dan mengamati satu persatu lorong di hadapannya. Mula-mula ia menoleh ke arah kiri, di sana ia melihat semburat cahaya memantul pada lapisan karet berwarna merah.
“Kalau tak salah di ujung lorong ini ada jembatan gantung, dan di ujung jembatan itu terdapat lorong kecil berkelok menuju kolam bola.” pikir Ibrahim berusaha mengingat-ingat rute lorong di hadapannya. Kemudian ia menoleh ke kanan. Sebuah cahaya terang nampak menyilaukan mata.
“itu tandanya jalan keluar sudah dekat”pikir Ibrahim.
Kemudian tanpa berpikir panjang ia pun bergegas membelok ke arah kanan. Benar juga hanya tiga langkah ia sampai di ujung lorong. Namun karena kurang hati-hati ia tidak menyadari bahwa ujung lorong itu merupakan papan seluncur. Badannya oleng kesamping, dan meluncur dengan cepat ke bawah. Tubuh kecilnya terhenti tepat di atas tumpukan bola berwarna-warni.
Namun ia heran sendiri bukannya takut yang ia rasakan tapi sebuah perasaan puas dan menyenangkan. Bahkan tanpa ia sadari, ketika meluncur ia tertawa terbahak-bahak karenanya. Tentu saja Ayah yang melihat itu pun turut gembira.
“Ayah, Alhamdulillah Ibrahim bisa…” teriak Ibrahim sambil melompat-lompat kegirangan. Senyum Ayah mengembang dan tangan Ayahpun bertepuk tangan.
Kemudian Ibrahim kembali menuju mulut lorong. Rupanya kini ia melewati rute yang lain sehingga sampai di kolam bola lebih lama dan meluncur dari arah yang berbeda. Begitulah kini Ibrahim telah berhasil mencoba semua rute dan permainan disana.
Setelah merasa puas iapun memutuskan untuk mengakhiri permainannya. Ayah menjemputnya di pintu keluar dengan wajah sumringah. Serasa mengetahui lelah yang dirasakan putranya, Ayah meraih tubuh bocah berumur empat tahun itu kegendongannya.
Ibrahim bergelanyut pada leher Ayah, dan menyandarkan kepalanya di pundak Ayahnya. Sembari mendengarkan Ayah.
“A’im hebat. Tuh.. kan Ayah bilang juga apa, seru bukan.” kata Ayah seraya mengelus kepala Ibrahim dengan penuh sayang. Mereka pun menuju areal parkir untuk menunggu Bunda di sana.
Setelah sampai di areal parkir, Ayah duduk di bangku tak jauh dari tempat mobil mereka di parkir. Seraya memandang langit biru Ayah berkata pada Ibrahim yang mulai mengantuk karena lelah.
“Sudah wajar bila kita takut menghadapi sesuatu yang baru sayang. Tapi seperti halnya juga kehidupan kita harus bisa mengatasi rasa takut itu. Asal kita selalu berada di pihak dan jalur yang benar, tidak melanggar larangan Allah dan demi menegakkan kebaikan untuk menumpas kejahatan. Janganlah kau takut anakku.” kata Ayah lagi
“Hidup itu tak jauh beda dengan lorong mainan tadi. Kadang jalannya lurus dan gelap, namun tak jarang terjal dan berliku. Ada banyak persimpangan, tanjakan dan kerikil yang menghadang. Tapi kau jangan takut nak.” kata Ayah lagi.
“Asal kita bersandar pada Dzat yang maha kuat, yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Jangan pernah kau takut untuk melangkah. Karena di setiap lorong gelap pasti ada seberkas cahaya di ujungnya. Dan pada kesulitan pasti ada kemudahan menyertainya.” kata Ayah seraya mengecup kening buah hatinya yang mulai terlelap.
Perlahan Ayah menuju mobil, membuka pintu belakang dan menidurkan Ibrahim di jok belakang. Tak lama kemudian Bunda datang. Kedua tangannya mendorong kereta belanja. Bunda tersenyum melihat buah hatinya tidur pulas di jok belakang. Setelah selesai memasukkan belanjaan kedalam mobil. Bunda mengecup kening buah hatinya yang tak bergeming. Menyelimutinya dengan jaket dan kemudian duduk di samping Ayah.
Mobil di stater, roda-rodanya mulai menggelinding meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Membentang jalanan, berkelok dan terus melaju di antara mobil-mobil yang lain. Ayah menceritakan pengalaman mereka hari ini di sepanjang perjalanan itu. Bunda turut senang mendengarnya.
Peluh membasahi dahi Ibrahim, nafasnya naik turun dengan teratur. Senyum bahagia terus terlukis di wajahnya, mengantar jiwanya yang berkelana di alam mimpi. Tanpa disadarinya sejuta petualangan lain telah menantinya dalam menapaki kehidupan nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: